Kunjungan Praktikum Kakao Kecamatan Nisam Aceh Utara: Kakao Indonesia untuk Cokelat yang Mendunia

Langit Sabtu pagi itu tak dibungkus hujan, pun tak dibalut sinar matahari yang menyilaukan. Pagi yang sempurna! Rombongon kami, mahasiswa Agroteknologi angkatan 2020, sudah nampak berkumpul di loby depan saat pukul 6.30 pagi.

Wajah-wajah bersemangat tampak memancar dari setiap mahasiswa. Wajar saja, hari itu kami akan berkunjung ke salah satu kebun cokelat ternama di Aceh, Indonesia.

Tepat pukul 7, rombongan kami lepas landas dari Universitas Samudra menuju Kebun coklat yang berada di daerahAceh Utara. Perlu bus VIP ukuran besar untuk menampung rombongan kami, tiga angkatan mahasiswa beserta pendamping. Dalam perjalanan ini, kami beserta dua orang Dosen, Pak Iswahyudi dan Pak Boy serta seorang staff akademik, Mas Ade.

Tidak ada halangan berarti selama perjalanan. Pagi di Sabtu Langsa tidak seramai hari-hari kerja biasanya. Jalan-jalan menyepi, lalu lintas ramai lancar. Dalam waktu kurang lebih satu jam, bus kami sudah merapat di halaman parkir.

Begitu masuk ke area kebun, senyum simpul langsung terkembang di wajah sebagian besar mahasiswa. Bukan karena terpesona dengan kebun yang luas, namun karena karena kami melihat sebuah flowchart besar yang terpampang di dinding ruangan yang pertama kami masuki. Sebelumnya, kami (mahasiswa angkatan 2020) memang ditugaskan oleh dosen untuk membuat flowchart produksi di kebun Cocoa. Ya senanglah, jawaban tugas kami langsung tersedia di menit pertama masuk ke pabrik BT Cocoa, hehe. Dosen-dosen yang menyertai kami hanya ikut tertawa. “Salah kasih tugas sepertinya”.


Kami baru disambut oleh manajemen saat jam besar di ruangan berdentang sembilan kali. Enam puluh menit sebelumnya, waktu berlalu dengan aksi jepret-jepret dan sedikit diskusi dengan dosen. Momen ini tiada boleh disiakan. Segala sudut dan sisi ruangan itu habis dengan jepretan, flow chart besar di dinding, miniatur kebun, miniatur kincir angin dari Belanda, bahkan pohon cokelat tiruan menjadi ornamen menarik di ruangan itu.

perwakilan BT Cocoa yang pagi itu ditugaskan menyambut kami. Oleh beliau, kami diantarkan masuk ke semacam ruangan rapat yang sangat apik. Beliau memberi presentasi mengenai cokelat dan BT Cocoa yang menurut saya, disampaikan dengan padat dan jelas. Dari beliau, pengetahuan saya tentang cokelat semakin luas, terutama mengenai proses-proses pengolahan biji cokelat menjadi berbagai macam produk turunan cokelat.


 
“Warna cokelat dipengaruhi pH pada proses alkalisasi, semakin tinggi pH, semakin gelap warnanya”. Saya baru tahu itu..

“Tidak ada satupun pabrik cokelat di dunia yang memiliki kebun cokelat sendiri, semua dikumpulkan dari petani-petani lokal”, saya baru tahu itu. Berbeda dengan perusahaan kopi atau teh yang punya perkebunan sendiri.

Terlebih lagi yang membuat saya cukup tersentak, Indonesia ternyata menjadi satu-satunya negara pengekspor biji kakao non-fermentasi di dunia. Oleh karena itu, biji kakao Indonesia memiliki harga jual yang lebih rendah daripada biji kakao dari negara-negara lain seperti Pantai Gading dan Ghana. Proses fermentasi memang menghasilkan biji kakao dengan kualitas yang jauh lebih baik, dari segi flavor ataupun rasa. Sayangnya, petani-petani kakao di Indonesia belum terbiasa melakukan fermentasi dan langsung mengeringkan biji kakao yang telah dipanen.

Prsentasi ditutup dengan dengan riuhnya tepuk tangan. Sesi pun dilanjutkan dengan tanya jawab oleh beberapa mahasiswa dan dosen. Sebelum ke agenda inti, jalan-jalan menjelajahi pabrik, kami diputarkan video mengenai aturan-aturan bagi pengunjung pabrik.


Dan akhirnya, tibalah kami pada agenda yang sudah ditunggu sejak tadi. Jalan-jalan! Titik awal perjalanan kami saat itu adalah titik pertama produksi, yaitu penyimpanan bahan baku. Walau harus melihat dengan dibatasi oleh jendela kaca yang kokoh, aroma biji kakao tercium cukup kuat memenuhi koridor-koridor. Maklum saja, di gudang itu terlihat beribu-ribu karung biji kakao yang dikirim dari berbagai pelosok Indonesia.

Di gudang penyimpanan bahan baku itu pula dilakukan proses pembersihan untuk memisahkan biji kakao dengan berbagai material asing, sangat variatif, mulai dari batu, pasir, tali rafia, potongan besi, hingga sendal jepit! Ada-ada saja.. Proses pembersihan ini sangat penting. Tentu tak terbayangkan jika sandal jepit masuk ke tahap selanjutnya, dipanggang bersama cokelat, ahh tidaaak…

Sejauh mata memandang dari jendela-jendela kaca, mata kami disuguhkan pemandangan kakao. Maklum saja, kapasitas produksi adalah 120.000 ton per tahun. dan lain-lain sudah dioperasikan secara otomatis dengan komputer.

Setelah cukup lelah mengelilingi yang berukuran 9 hektar, betapa terkejutnya (bahagianya) kami ketika disuguhkan minuman cokelat yang segar. Rasanya enak! Terlebih lagi kami menikmatinya secara gratis, hehe. Boleh tambah pula, ah, lengkaplah bahagiaa..
 


Pukul setengah dua belas, kami bersiap-siap pulang ke langsa. Tak lupa kami foto bersama di halaman pabrik untuk melengkapi kumpulan jepretan kami di Kebun KAKAO. Hari ini, dalam tiga setengah jam di kakao, ada banyak pelajaran berharga serta ilmu-ilmu baru yang bisa kami bawa pulang. Langkah-langkah kaki kami pun ditujukan pada bus yang akan mengantarkan kami pulang. Saatnya makan siang lalu memejamkan mata sejenak, Langsa masih jauh..

Ditulis oleh: Kiagus Zain ([email protected])